Sumber: BBC.COM
by

Ditetapkan Tersangka, Bachtiar Nasir sebarkan video ‘korban politisasi’, polisi beberkan bukti-bukti



AR

KANALSATU.info – Bachtiar Nasir, penggerak Ijtima Ulama, melalui tayangan video, menganggap dirinya menjadi korban “politisasi” terkait status tersangka pencucian uang yang ditimpakan kepolisian terhadap dirinya.

Namun demikian, kepolisian mengklaim memiliki dua bukti hukum terkait penetapan status tersangka terhadap Bachtiar Natsir.

Sedianya polisi memeriksa Bachtiar pada Rabu (08/05), namun yang bersangkutan – melalui pengacaranya yang mendatangi tim penyidik kepolisian – meminta agar pemeriksaan ditunda.

banner 300250

Dalam video yang beredar di masyarakat, Bachtiar Nasir menuduh kepolisian melakukan politisasi atas dirinya terkait status tersangka tersebut.

“… Ini masalah lama tahun 2017 dan ini tentu sangat politis,” kata Bachtiar, dalam video tersebut. Kuasa hukumnya belakangan membenarkan bahwa kliennya berada di balik video tersebut.

Kuasa hukumnya, Aziz Yanuar, menganggap “politisasi” itu terkait dengan sepak terjang kliennya kasus dalam acara Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional 3 yang menuding penyelenggaraan Pemilu 2019 diwarnai kecurangan.

Menurut pengacaranya, Bachtiar tidak bisa menghadiri pemeriksaan pada Rabu ini, karena memiliki acara pribadi dan meminta ditunda “habis lebaran”.

Namun demikian, tim penyidik kepolisian tetap mengagendakan pemeriksaan Bachtiar Nasir pada Selasa (21/05) depan.

banner 300250

 

Apa alat bukti yang dimiliki polisi?

Di tempat terpisah, kepolisian membeberkan dua alat bukti dugaan keterlibatan Bachtiar dalam kasus dugaan penggelapan dana Yayasan Kesejahteraan Untuk Semua (YKUS) dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo menjelaskan, alat bukti pertama berdasarkan keterangan seorang saksi yang memiliki peran mengalihkan kekayaan yayasan.

“Yang pertama dari hasil pemeriksaan, keterangan tersangka AA. AA perannya mengalihkan kekayaan yayasan,” kata Dedi kepada wartawan, Rabu (08/05).

Alat bukti kedua, tambahnya, adalah hasil audit rekening YKUS, yang disebutkan terdapat aliran dana umat yang digunakan untuk kegiatan yang tak sesuai peruntukannya.

Dari bukti itulah, menurut Dedi, Bachtiar Natsir “diduga melanggar Pasal 70 Undang-undang Nomor 16 Tahun 2001, demikian juga juncto Pasal 5 ayat 1 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang perubahan atas Undang-undang Yayasan, serta juga Pasal 374 juncto Pasal 372 KUHP.”

“Jadi ada penyimpangan penggunaan rekening. Ini adalah dana umat, dana masyarakat, tapi peruntukannya bukan untuk bantuan, tapi untuk kegiatan-kegiatan lain. Ini sudah diaudit,” papar Dedi.

Berdasarkan hasil audit rekening, ungkap Dedi, jumlah uang yang diduga diselewengkan adalah Rp 1 miliar. “Dari hasil pemeriksaan sementara terhadap tersangka dan para saksi yang dimintai keterangan, ini sejumlah Rp 1 miliar,” terang Dedi.

 

Mengapa sekarang ditetapkan sebagai tersangka?

Penetapan Bachtiar Nasir sebagai tersangka baru dilakukan dua tahun setelah dimulainya penyelidikan kasus pengalihan aset Yayasan Keadilan Untuk Semua. Lantas, mengapa penetapan tersangka baru dilakukan sekarang?

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, Selasa (07/05), Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Dedi Prasetyo menjelaskan, kasus yang menjerat Bachtiar merupakan kasus lama yang diselidiki Bareskrim Polri pada 2017 silam, bersamaan dengan momentum Pilkada DKI Jakarta.

Dia beralasan penetapan tersangka baru dilakukan sekarang untuk menghindari ‘kegaduhan’. Apalagi, pada saat itu, Bachtiar Nasir dikenal sebagai penggerak masa Aksi 411 dan 212 yang menentang gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnamayang dianggap menista agama.

“Pasti momentum harus dilihat, jangan sampai momentumnya justru penegakkan hukum membuat gaduh. Itu harus dipertimbangkan oleh penyidik. Yang kedua, penyidik secara teknis sudah menemukan dua alat bukti, baru menetapkan sebagai tersangka,” ujar Dedi kepada BBC News Indonesia, Selasa (07/05).

Kendati begitu, Dedi enggan mengungkapkan dua alat bukti penetapan Bachtiar sebagai tersangka.

“Penyidik sudah memiliki dua alat bukti tentunya, dalam hal ini dia sudah ditetapkan sebagai tersangka, berarti dua alat bukti sudah ada.”

“Itu kan ada beberapa tersangka yang sudah ditetapkan di awal. Sekarang tinggal peran masing-masing harus bertanggung jawab pada perbuatannya,” ujar Dedi.

 

 

close