by

Polisi Bongkar Sindikat Perdagangan Orang ke Timur Tengah



AR

KANALSATU.iinfo – Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri membongkar empat jaringan perdagangan orang yang mengirimkan tenaga kerja ke sejumlah negara di Timur Tengah. Modusnya memberikan fee kepada sanak keluarga untuk dapat membujuk para calon pekerja ke sana.

Pengungkapan kasus ini disampaikan oleh Direktur Dittipidum Bareskrim Polri Brigjen Herry Rudolf Nahak dalam jumpa pers di Gedung Awaludin Djamin Bareskrim Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (9/4/2019).

“Ada modus operasi yang dilakukan oleh agen-agen yang takut kasus pekerja migran yang dia bawa keluar negeri itu datang melapor kesini. Untuk mengantisipasi itu, apabila ada pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, agen ini supaya enggak kena kasus, dia ambil sendiri ini orangnya. Dia bujuk, dia kasih duit ke keluarganya Rp 4 juta Rp 5 juta agar tidak melapor ke polisi dan masalah selesai. Diajak damailah kira-kira,” katanya.

banner 300250

Agen-agen yang melakukan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini, dijelaskan Herry terdiri dari empat jaringan yang berbeda.

Pertama, jaringan perdagangan orang ke negara Maroko Timur Tengah. Kasus ini terungkap dari korban MS yang diiming-imingi oleh tersangka M gaji Rp 3 juta sampai Rp 4 juta untuk menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Maroko.

Namun, setelah korban MS bekerja selama dua bulan, ia mendapat tindak kekerasan dari majikannya. Akhirnya ia berusaha kabur dan lari ke Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk pulang. “Akhirnya KBRI Rabat memulangkan Meni Sumaeni ke Indonesia pada 11 Januari 2019,” katanya.

Kemudian kasus kedua, terjadi oleh korban IR yang dikirim oleh agen Walid ke negara Turki. Ia dijanjikan oleh Erna Rachmawati dan Saleha Binti Sahiudin yang telah ditetapkan menjadi tersangka. IR bersama dua orang korban lainnya, diiming-imingi gaji Rp 7 juta perbulan.

Namun, IR mendapat pelecahan seksual oleh majikannya selama bekerja dan tidak digaji selama 3 bulan oleh agensi Walid. “Mereka berdua (tersangka) ini kurang lebih Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dikirim sebanyak 210 orang pada tahun 2018 sampai 2019 sekarang. Korban kebanyakan dari Bima NTB. Kemudian jalur yang dipakai Jakarta-Oman-Istanbul,” Herry menjelaskan.

banner 300250

Untuk jaringan ketiga, polisi berhasil mengungkap jaringan perdagangan orang ke Suriah. Muhammad Abdul Halim sebagai tersangka, berhasil mengirim 300 orang PMI ke Suriah. Ia menjanjikan uang gaji kepada korban sebesar Rp 5 juta dan uang fee kepada keluarga sebesar Rp 4 juta sampai Rp 5 juta jika ia diberangkatkan.

Korban dari kasus ini ialah ES. Herry mengatakan kalau ES sudah dua kali terjebak oleh agen ini. “Jadi ini kejadian yang baru selama kita nanganin TPPO. Setelah berangkat balik disini korban dijemput agennya kemudian diberangkatkan lagi. Kenapa diberangkatkan lagi? Karena agen ini udah ngeluarin duit fee (ke keluarga) untuk perjanjian damai,” katanya.

Kemudian untuk jaringan yang terakhir, polisi berhasil menangkap tiga orang warga negara asing asal Ethiopia. Mereka bernama Neneng Susilawati Binti Tapelson, Abdalla Ibrahim, dan Faisal Hussein. Mereka mengirimkan 600 orang PMI untuk menjadi PRT di Arab Saudi. “Kedua WNA itu (Faisal dan Abdalla) merupakan jaringan terbesar di Indonesia yang mengirimkan PMI menjadi PRT ke Arab Saudi,” dia menyebutkan.

Pasal yang disangkakan kepada seluruh tersangka yakni pasal berlapis. Pasal 4 dan Pasal 10 UU nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang. Kemudian Pasal 81 dan Pasal 86 UU nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan pekerja migran Indonesia.

Mereka terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun untuk TPPO dan maksimal 10 tahun untuk perlindungan pekerja migran Indonesia.

 

 

close

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *